Membangun Indonesia Yang Lebih Baik - Harian Medan Bisnis - Membangun Indonesia yang Lebih Baik

Diposting oleh blogekiyai on Senin, 28 April 2014

Berita Terkini
E-paper
Foto Berita
Kurs Valuta Asing
Mata Uang Beli Jual
USD 11,545.00 11,575.00
SGD 9,186.80 9,226.15
JPY 112.89 113.53
MYR 3,526.73 3,565.44
CNY 1,845.10 1,858.65
THB 356.38 360.40
HKD 1,488.80 1,493.25
EUR 15,945.95 16,011.75
AUD 10,708.05 10,760.25
GBP 19,369.05 19,443.75
Last update: 28 Apr 2014 09:00 WIB
Terkini

Senin, 28 Apr 2014 23:10 WIB - http://mdn.biz.id/n/92644/ - Dibaca: 98 kali

Industri Gula Terhambat Keterbatasan Lahan-Teknologi

"Jika Komunitas ASEAN terwujud pada 2015, gula mendapat saingan hebat dari Thailand. Level persaingannya di efisiensi produksi. Bagaimana penggilingan kita kalah, begitu juga industrinya," kata Direktur Eksekutif AGI Tito Pranoloh di Jakarta, Senin. Kapasitas produksi gula nasional, kata Tito, masih jauh di bawah Thailand. Menurut data AGI, luas lahan tebu di Indonesia saat ini baru mencapai 470 ribu hektare.

Rencana pemerintah, lanjut Tito, ingin menambah 350 ribu hektare lagi namun masih belum dapat menyusul produksi industri gula Thailand, yang memiliki lahan tebu di atas satu juta hektare. Jika terdapat lahan tambahan 350 ribu hektare tersebut, kata dia, setidaknya akan terdapat 14 pabrik baru untuk produksi gula. "Namun, memang masih sulit untuk menyaingi Thailand yang luasnya sekitar satu juta hektar, padahal Thailand negara yang luasnya jauh lebih kecil dibanding Indonesia," ujarnya.

Dari segi teknologi produksi, Tito menyebut pabrik gula di Indonesia masih banyak yang menggunakan mesin-mesin peninggalan penjajahan Belanda. Produksi mesin tersebut hanya mampu mengolah tiga ribu bahan baku ton tebu per harinya. Sementara, pabrik-pabrik gula di Thailand memiliki kapasitas mengolah 13 ribu ton per hari.

Oleh karena itu, AGI meminta, pemerintah mengupayakan peningkatan produksi gula, salah satunya dengan pengadaan mesin pabrik, setidaknya untuk mendongkrak kapasitas produksi hingga enam ribu ton per harinya. Namun, untuk peningkatan kualitas teknologi mesin pabrik juga, diakui Tito, memerlukan jangka waktu lima hingga tujuh tahun. "Begitu teknologi kita kalah tidak mungkin kita menang dalam persaingan. Kita berharap di MEA, dua komoditas ini tidak dimasukkan," ujarnya.

Di bagian lain, dia mengatakan Indonesia seharusnya mampu untuk tidak melakukan impor gula dalam penyediaan stok nasional. Seperti untuk Gula Kristal Putih (GKP), yang masih! memiliki stok ketersediaan pada awal tahun 2014 mencapai 1,2 ! juta ton. Pada Maret 2014, AGI mengklaim ketersediaan stok GKP masih 900 ribu ton. Jumlah itu, kata Tito, belum ditambah daya produksi GKP nasional yang jika dilihat pada 2014 dapat mencapai 2,6 juta ton.

Dengan begitu, Perum Bulog, kata dia, seharusnya tidak perlu untuk melakukan impor GKP lagi. Pemerintah juga diharapkan memperhatikan petani tebu, dengan segera menetapkan harga patokan petani untuk memberikan jaminan kelaikan harga kepada petani. "Jika ada jaminan pemerintah soal tingkat harga yang laik untuk petani mau produksi tebu, ini hal yang bagus untuk swasembada gula," ujarnya. (ant)

BERITA TERKAIT

Source : http://medanbisnisdaily.com/news/read/2014/04/28/92644/industri_gula_terhambat_keterbatasan_lahan-teknologi/