Turki Bersikeras Sensor Internet - The Wall Street Journal Indonesia

Diposting oleh blogekiyai on Senin, 05 Mei 2014

Oleh Joe Parkinson, Sam Schechner, dan Emre Peker

AFP/Getty Images
Seorang perempuan menunjukkan kartu identitas dalam unjuk rasa di Ankara, Turki.

ISTANBUL—Musim semi tahun lalu, Perdana Menteri (PM) Turki Recep Tayyip Erdogan berkeliling markas Google Inc. Ia menumpang mobil yang bisa berjalan tanpa supir serta menguji kacamata Google Glass. Ia juga berjanji akan melanjutkan proses digitalisasi di Turki, negara yang dipimpinnya sejak 2003.

Namun sejak saat itu, Erdogan telah mengubah pemerintahan yang terpilih secara demokratis menjadi salah satu negara dengan sensor internet paling ketat di dunia.

Partai yang dipimpin PM berusia 60 tahun itu menerbitkan undang-undang yang memungkinkannya menutup situs tanpa perintah pengadilan. Erdogan juga sanggup mengumpulkan data browsing internet yang dilakukan tiap pengguna. Ia bahkan menempatkan seorang veteran mata-mata pada posisi puncak badan regulator komunikasi Turki.

More In Dunia

Belum cukup, Erdogan memblokir puluhan situs. Selama dua pekan pada akhir Maret hingga awal April, ia melarang akses Twitter Inc. Layanan berbagi video YouTube milik Google dibekukan sejak 27 Maret. Seorang kolumnis dan akademisi divonis Selasa silam. Ia dihukum 10 bulan penjara, lantaran kicauannya di Twitter dinilai telah menghina sang PM. Sebanyak 29 lainnya masih disidang atas tuduhan menggunakan Twitter guna menggelar protes dan menyulut kerusuhan tahun lalu.

"Biarkan orang-orang berbicara tentang apa-apa yang mereka inginkan. Kami akan menangani ini dengan cara kami," papar Erdogan sesudah membekukan Twitter.

Ayman Oghanna for The Wall Street Journal
Seorang laki-laki menyapu jalanan Istanbul, 24 April 2014, di depan tembok yang dicat abu-abu. Pemerintah kota memakai cat abu-abu untuk menutupi coretan dinding yang bermuatan politik, termasuk yang memberikan instruksi untuk mengakali blokir internet.

Ketegangan menguat Kamis lalu di Turki. Saat itu, demonstran bentrok dengan polisi yang berupaya menegakkan larangan arak-arakan ke Alun-alun Taksim, Istanbul. Lapangan itu sejak lama menjadi simbol perbedaan berpendapat pada Hari Buruh. Beberapa pihak yang berseberangan dengan Erdogan secara personal mengaku gugup, saat ingin menggaungkan pernyataan antipemerintah. Di kafe dan bar setempat, orang-orang memperdebatkan berbagai teknik untuk mengakali pembekuan situs berikut pengawasan pemerintah.

Pemberangusan internet ini adalah respons cepat Erdogan atas perlawanan pesaing-pesaing politiknya. Perusahaan internet serta pejabat pemerintah asing—mulai dari Washington hingga Brussels—cemas bahwa Turki akan dipandang sebagai percontohan bagi pemerintah negara lain. Mereka, yang ingin menguasai internet tanpa pembatasan habis-habisan seperti Cina atau Iran.

Iran tengah membentuk apa yang disebut intranet "halal" guna menggantikan internet. Pejabat Cina telah memberlakukan sensor serta sistem penyaringan yang dikenal sebagai Great Firewall. Di Turki, Erdogan mengizinkan akses internet tak berbatas. Namun, akses semacam ini bisa cepat diblokir, jika intelijen mendapati sesuatu yang dianggap ancaman.

Ayman Oghanna for The Wall Street Journal
Baliho bergambar PM Erdogan di Istanbul, 24 April 2014. Slogan di baliho berbunyi: "Tekad Baja".

"Ini adalah uji kasus atas model otoriter terhadap sensor internet," papar Zeynep Tufekci, warga negara Turki yang menjadi spesialis internet di University of North Carolina, Amerika Serikat

Erdogan mencabut larangan Twitter, setelah pemblokiran itu dinyatakan tidak sah oleh mahkamah agung Turki. Tetapi pejabat Istanbul kini menuntut Twitter bergerak lebih cepat dalam menuruti perintah Turki, yang menginginkan penutupan beberapa akun.

Twitter mengaku sedang "terus berdialog" dengan pejabat Turki. Sedangkan Google telah mengirim banding ke tiga pengadilan guna mengakhiri larangan YouTube. Dalam pernyataan lewat surel, juru bicara Google mengungkap: "Jelas mengecewakan bagi pebisnis dan warga Turki, ketika YouTube masih saja diblokir."

Januari silam, YouTube dan Twitter menjadi situs terpopuler, masing-masing ketiga dan keenam di Turki, menurut asosiasi industri IAB Turkiye.

Source : http://indo.wsj.com/posts/2014/05/04/turki-bersikeras-sensor-internet-2/