Fitzgerald masih ingat, lima jam setelah kecelakaan, sebelum bantuan medis datang, pasangannya dan satu orang lain mencoba untuk memberikan nafas buatan.
Kecelakaan tersebut telah menyebabkan dirinya susah bernafas, dan membutuhkan alat bantu pernafasan, atau ventilator, selama dua tahun.
Kini, ia membantu kaum difabel agar dapat memulihkan kehidupan, dengan bantuan teknologi. Ia telah banyak mengajarkan mereka bagaimana menggunakan sejumlah peralatan dan perlengkapan.
"Sebenarnya saya sudah mengembangkan teknologi bagi kaum difabel sebelum leher saya patah," ujar Fitzgerald, yang kini berusia 52 tahun.
"Mereka dapat menggunakan komputer atau mereka dalam menyalakan lampu, televisi, secara mandiri tanpa bantuan orang lain," tambahnya yang pernah bekerja sebagai insinyur elektrik dan IT.
Kehidupannya sendiri telah berubah lewat teknologi yang digunakannya.
Kursi roda elektriknya dilengkapi dengan panel kontrol, yang bisa dimanipulasi oleh gerakan dagu atau dengan cara menghembuskan atau meniup udara lewat sejenis sedotan.
Fitzgerald mendapat ide di tahun 2001, melalui pengendalian jarak jauh untuk membuka pintu garasi. Dari sinilah ia berpikir untuk mengintegrasikan teknologi tersebut dengan kursi rodanya.
Kemudian ia mendapatkan dua perusahaan teknologi yang bersedia menyediakan produk-produk untuk dapat merancang sistem baru, yang bisa melengkapi kursi rodanya. Kini ia bisa membuka dan menutup pintu dari kursi rodanya, selagi listrik tidak padam.
Salah satu teknologi canggihnya adalah sinar infra merah yang dipancarkan dari kamera laptopnya ke plester perak yang ada di dahinya. Dengan sinar infra merah ini, ia dapat menggendalikan perlengakapan elektronik di rumahnya dengan cara menggerakan kepalanya.
Seiring dengan perkembangan teknologi melalui tablet atau aplikasi, semakin memberikan bantuan bagi kaum difacebel untuk lebih mandiri. Termasuk memudahkan dalam berkomunikasi dan mencari pekerjaan.
Terlebih dengan teknologi berbasis suara yang juga telah semakin meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Ada pula teknologu yang bisa dikendalikan gerakan mata, semuanya ini bisa membantu mereka yang mengalami keterbatasan fisik.
Fitzgerald juga pernah mengikuti uji coba penggunaan teknologi yang bisa dikendalikan oleh pikiran, melalui gelombang otak.
"Ini mengubah gelombang alpha dan beta yang bisa digunakan untuk mengoperasikan banyak hal," ujarnya.
Ia berharap melalui Skema Nasional Asuransi Penyandang Cacat (NDIS) di Australia bisa memudahkan dan membuat teknologi lebih terjangkau bagi kaum difabel.
Source : http://www.radioaustralia.net.au/indonesian/2014-08-21/beginilah-teknologi-bisa-bantu-kaum-difabel-di-australia/1359354