Jakarta - Plt Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Akmadi Abbas mengingatkan, perlunya kesiapan sumber daya manusia menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015.
Menurutnya, inovasi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dan produktivitas merupakan kunci untuk memenangkan persaingan dalam era perdagangan bebas ASEAN.
"Perdagangan bebas dapat dianggap sebagai suatu hal positif jika pemain yang berperan di dalamnya memiliki berbagai kompetensi dan kemampuan yang mumpuni salah satunya bidang inovasi dan teknologi," katanya di sela Forum Tahunan Pengembangan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Informasi dan Nasional (Iptekin) IV, di Jakarta, Kamis (9/10).
Forum Iptekin ini menjadi momentum mengingatkan semua pihak bahwa Indonesia harus segera berbenah dan mempersiapkan diri sebaik mungkin menghadapi pasar bebas ASEAN. Sebab, persaingan dalam era keterbukaan perdagangan ini tidak bisa bertumpu pada strategi ekonomi maupun perdagangan semata, tapi minim dalam investasi penelitian dan pengembangan inovasi teknologi.
Pemberlakukan pasar bebas memiliki konsekuensi, setiap negara yang menjadi peserta harus mempunyai kompetensi dan kemampuan mumpuni, khususnya di bidang inovasi dan teknologi untuk memenangkan persaingan. Namun disadari kondisi Indonesia saat ini cukup mengkhawatirkan karena kapasitas inovasi, kapabilitas teknologi dan kemampuan industri tergolong rendah.
Dalam forum Iptekin tersebut hadir pula Dr Sarah Cheah dari National University of Singapore yang pernah menjabat sebagai Vice Chairmaan AStar ETPL, Dr Ilham Habibie, ilmuwan, pengusaha dan saat ini menjabat Ketua Tim Pelaksana Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia, Deputi Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI LT Handoko, Kepala Pusat Penelitian Perkembangan Iptek LIPI Trina Fizzanty, serta Deputi Bidang Kelembagaan Iptek Kementerian Riset dan Teknologi Mulyanto.
Ilham Habibie mengingatkan, menghadapi pasar bebas ASEAN, keunggulan komperatif harus menjadi keunggulan kompetitif. Penelitian dasar, lanjutnya, butuh teknologi penerapannya meski tidak semuanya harus dibuat seperti itu. Setidaknya, menurut dia, ada penelitian dasar yang bisa diterapkan di pasar untuk memajukan Iptekin.
Menghadapi pasar bebas ASEAN ada perusahaan-perusahaan yang bisa meningkat pesat asal didukung teknologi, seperti nanoteknologi, teknologi informasi dan komunikasi, serta energi terbarukan. "Di bidang agronanoteknologi misalnya dalam 3-5 tahun sudah bisa berkembang dan ada produk unggulannya," ujarnya.
Source : http://www.beritasatu.com/iptek/216104-hadapi-pasar-bebas-2015-indonesia-perlu-berbenah-teknologi.html