Siswa SMAN 3 tak pernah belajar agama & komputer - Waspada Online

Diposting oleh blogekiyai on Senin, 20 Oktober 2014

WASPADA ONLINE

MEDAN - Meski dikenal sebagai sekolah favorit, namun proses belajar mengajar di SMAN 3 Medan tidak mencerminkan hal tersebut.

Hal ini terlihat dari hasil investigasi Ombudsman RI Perwakilan Sumut ke sekolah yang berlokasi di Jalan Budi Kemuliaan Medan. Pagi itu, sekira pukul 10.15 WIB, sebagian siswa kelas XII IPA 6 tampak berkeliaran di luar kelas. Mereka tidak belajar. Mondar-mandir, tertawa, bercanda sesama mereka. Pemandangan di dalam ruang kelas pun tak jauh berbeda, tampak semrawut.

Karena tak ada kegiatan belajar, para siswa hanya terlihat ngobrol di dalam kelas. Sebagian berlari-lari kegirangan, keluar masuk kelas. Ada yang memukul-mukul meja sambil bernyanyi, dan ada pula yang duduk bersila di depan kelas sambil menggoyangkan badan. "Kami h! ari ini belajar agama Islam kak. Tapi gurunya belum masuk, terlambat," kata seorang siswa perempuan ketika ditanya.

Menurut siswa yang mengenakan jilbab ini, setiap Jum'at mereka belajar agama. Namun karena guru yang mengajar belum masuk, mereka akhirnya berseliweran di sekitar kelas. Tapi anehnya, siswa tampak bingung dan tidak kompak ketika ditanya perihal pelajaran agama tersebut.

Siswa pertama mengatakan bahwa guru agama sering terlambat masuk. Yang lainnya mengaku bahwa mereka sering tidak belajar agama karena guru tidak masuk. Ada pula siswa yang tidak tahu pukul berapa sesungguhnya pelajaran agama itu dimulai.

"Jam 10, eh gak tau deng karena jarang masuk gurunya," celetuk seorang siswi berkulit putih.

Anehnya lagi, siswi ini juga tidak tahu siapa nama guru agama mereka. "Gak tahu, udah ganti gurunya. Ganti-ganti yang ngajar. Sebelumnya Pak Rifai," katanya lagi.

Kepala Ombudsman RI Perwakilan Sumut Abyadi Siregar menilai, kebingungan sisw! a dalam menjawab pertanyaan tersebut mengindikasikan bahwa lap! oran yang diterima Ombudsman benar adanya.

Dijelaskan Abyadi, investigasi yang dilakukan Ombudsman ini berdasarkan laporan masyarakat yang mengadukan bahwa sejak tahun ajaran baru 2014 dimulai, siswa kelas XII tidak pernah belajar agama karena guru tidak pernah masuk, dan juga tidak dapat belajar komputer karena ruang praktik komputer dipakai untuk belajar siswa yang melebihi kapasitas jumlah kelas di sekolah tersebut.

"Laporan yang kita terima, sejak tahun ajaran baru siswa tidak pernah belajar agama Islam dan komputer. Ternyata setelah kita lihat langsung, memang mereka tidak ada yang belajar. Dan ketika ditanya pun, jawabannya tidak gamblang. Padahal seharusnya kan itu mudah. Ini mengindikasikan bahwa laporan masyarakat yang masuk ke Ombudsman tersebut memang benar," ungkap Abyadi.

Ombudsman sangat menyayangkan hal ini terjadi di sekolah pavorit. Abyadi menduga, hal ini merupakan buntut dari penggelembungan jumlah siswa yang diterima sekolah hingga mele! bihi 100 persen dari kuota yang ditetapkan. Sehingga jumlah guru yang ada tidak mencukupi untuk mengajar 45 kelas yang ada di sekolah tersebut.

"Guru agama Islam mereka hanya ada 4, sementara yang mau diajar ada 45 kelas. Sedangkan ruang praktik komputer, digunakan untuk ruang belajar karena jumlah siswa yang mereka terima melebihi daya tampung sekolah," jelas Abyadi.

Oleh karena itu, ujar Abyadi, Ombudsman meminta sekolah melakukan perbaikan terutama soal ketiadaan guru agama dan ruang komputer agar segera diatasi. Karena masalah ini telah mengorbankan siswa yang sudah sebulan lebih tidak belajar. Sedangkan tidak lama lagi siswa akan menghadapi ujian semester.

Sementara staf kesiswaan SMAN 3, Suyono mengakui semrawutnya proses belajar mengajar di sekolah tersebut dikarenakan belum selesainya pembangunan ruang kelas baru untuk siswa yang melebihi kuota.

Suyono berjanji akan menyampaikan masukan Ombudsman tersebut kepada kepala sekolah. "Ruang praktik! komputer memang masih dipergunakan untuk ruang belajar. Kita sedang me! mbangun kelas baru. Nanti bulan November sudah bisa dipergunakan," kata Suyono.

Terkait guru agama yang jarang masuk, Suyono mengakui bahwa SMAN 3 kekurangan guru. Pihak sekolah, kata Suyono, sudah mengajukan penambahan guru kepada Pemko Medan sejak dua tahun lalu. Namun hingga kini permintaan tersebut belum direalisasikan.

Menanggapi hal tersebut, Abyadi meminta sekolah memberikan copy surat permohonan penambahan guru tersebut agar Ombudsman dapat mendorong Pemko Medan untuk segera memenuhinya.

"Kita minta surat itu, diajukan kemana. Supaya bisa kita dorong Pemko untuk merealisasikan itu. Pemko kita minta juga membuat skala prioritas. Jangan dibiarkan berlama-lama. Kalau memang sudah ada suratnya, kita akan surati Pemko," pungkas Abyadi.

Editor: SASTROY BANGUN
(dat06/wol)

Warta Terkait:


Source : http://www.waspada.co.id/index.php?option%3Dcom_content%26view%3Darticle%26id%3D338828:siswa-sman-3-tak-pernah-belajar-agama-a-komputer%26catid%3D14:medan%26Itemid%3D27